Psikolinguistik makalah
Posted by
Ungkapan Cinta
dalam Puisi Aku Ingin Mencintaimu
Karya Sapardi
Djoko Damono
Farida
Asmarani (A310130194)
A.
Pendahuluan
Bahasa itu alat
interaksi atau alat komunikasi di dalam masyarakat, sedangkan berbahasa
merupakan proses penyampaian informasi
dalam berkomunikasi. Adanya bahasa karena sangat membantu masyarakat dan bahasa
merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Manusia akan mampu menyampaikan
maksud dan tujuannya dengan bahasa. Condillac (dalam Chaer, 2009: 31)
berpendapat bahwa bahasa berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan
yang bersifat naluri yang dibangkitkan oleh perasaan atau emosi yang kuat.
Perasaan yang dirasakan manusia akan terlihat dalam bahasa yang digunakan.
Bahasa itu
pencerminan dari perasaan atau hati seseorang. Seseorang akan merasa bahagia
karena jiwanya yang merasakan suatu kondisi lebih baik. Keadaan jiwa seperti
inilah yang mampu menghasilkan ungkapan perasaan.
Keadaan jiwa
manusia akan selalu berubah seiring perasaan yang dialaminya. Psikolinguistik
merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa dan bahasa. Menurut Dardjowidjojo
(2003: 7) psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari proses-proses mental
yang dilalui oleh manusia dalam mereka berbahasa. Mental manusia yang selalu
berubah, menghasilkan bahasa yang berbeda-beda.
Keadaan sangat
mempengaruhi jiwa manusia bahagia maupun sedih. Bahasa yang akan dihasilkan
oleh jiwa yang sedih itu akan terlihat jelas begitu sebaliknya dengan jiwa yang
bahagia. Jiwa yang bahagia biasanya disebabkan oleh rasa cinta.
Ungkapan cinta
mampu membuat semua jiwa manusia yang semula duka menjadi suka. Ungkapan merupakan
salah satu bentuk konotasi atau kiasan yang biasa kita temukan dalam
karya-karya sastra dewasa ini. Lain dengan peribahasa dan majas, ungkapan atau idiom merupakan gabungan kata yang menimbulkan makna
baru, dan tidak dapat ditafsirkan dengan makna unsur kata yang membentuknya.
Biasanya ditemukan pada karya sastra seperti pantun atau puisi, biasa juga disisipkan
dalam pidato atau pembicaraan. Sering juga ungkapan-ungkapan orang dulu
digunakan sebagai nasihat atau amanat.
Meskipun ungkapan
cinta dapat diwujudkan dalam berbagai cara, terdapat persamaan dalam cara orang
menanggapi cinta, yaitu pengorbanan. Seseorang yang benar-benar mencintai akan
rela mengorbankan apa pun bagi kekasih hatinya. Pengorbanan cinta ini menjadi
inti dari sajak pendek berjudul Aku Ingin
Mencintaimu yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono pada 1989.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
pendahuluan di atas ada 2 permasalahan yang perlu dikaji.
1. Bagaimanakah
ungkapan cinta puisi Aku Ingin
mencintaimu?
2. Bagaimanakah
rupa cinta sajak puisi Aku Ingin
Mencintaimu?
C.
Pembahasan
1.
Ungkapan
Cinta puisi Aku Ingin Mencintaimu
Karya Sapardi Djoko Damono.
Manusia adalah homo ludens yang punya
hasrat, rangsangan dan ingin. Dalam perjalanannya, cinta adalah bagian yang tak
bisa lepas dari perjumpaannya dengan “yang lain” yang terus saling tumpang
tindih dengan rasa benci. Pada akhirnya cinta dan benci memiliki pengertiannya
sendiri di benak masing-masing individu. Di antara hangar-bingar keanekaragaman
yang terus menyeret kita ke dalamnya, arti cinta semakin sulit diterka dalam
momen-momennya. Sinetron bilang cinta, pembunuhan menghunuskan cinta, koruptor
menyelip cinta dan iklan pun menyatakan cinta. Seolah cinta terus menampak,
mengolah dirinya dan muncul menjadi sesuatu.
Menurut Hamka, cinta adalah perasaan
yang mesti ada pada setiap manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari
langit, bersih, dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia
jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan,
kedustaan, penipu, dan perkara tercela lainnya. Tetapi jika ia jatuh ke tanah
yang subur, disana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti
yang tinggi, dan lain-lain yang terpuji.
Saat panah asmara
menancap di dada, berjuta perasaan berkecamuk. Suka cita, damai, bahagia,
cemburu, khawatir, dan gelisah bergemuruh di dada. Perasaan yang campur aduk
ini membuat setiap individu menanggapi dan menyatakan cinta dengan cara yang
berbeda-beda. Mereka yang romantis akan mengungkapkan cinta dengan bunga. Yang
praktis dan pragmatis akan menyatakan rasa kasmarannya dengan membelikan
kekasihnya hadiah. Yang hedonis akan mengajak kekasih ke pesta mewah atau klub
malam yang meriah untuk merayakan cinta.
Ungkapan cinta dalam
puisi Aku Ingin Mencintaimu karya
Sapardi Djoko Damono ini banyak mengandung maksud.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu
Pada baris pertama dari bait pertama ini
terfokus pada nuansa kata “sederhana”. Kata ini mengategorikan keadaan (sifat)
dari ungkapan sebelumnya, yaitu “mencintai”. Terlepas dari keterkaitanya dengan
kata yang lain, kita akan mengandaikan kata tersebut dengan keseharian yang
kita temui. “Sederhana” dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, Cet.
Ke-3: 1990) dikategorikan kata sifat yang memiliki arti sedang, bersahaja, tidak
banyak seluk-beluknya. Di sana dicontohkan hidupnya selalu bersahaja.
Dalam baris “//Aku ingin mencintaimu dengan
sederhana//”, mengahadirkan keinginan cinta dengan (sikap) yang sederhana.
Cinta yang dihadirkan bukan cinta yang lain, pasif atau progresif, nafsu atau
hal yang mengawang, dan ataupun wujud yang lain. “Mencinta” di sini hadir
dengan wajah yang sederhana, sedang dan tak berseluk-beluk.
Namun sebelum imaji saya beterbangan kemana-mana dengan kata “sederhana”, kembali saya dihadirkan dengan nuansa lain dari makna “sederhana”. Baris ke-2 dan ke-3 adalah semacam penjelasan akan kata “sederhana”, bagaimana ia menjadi sifat mencinta dalam puisi ini.
Ada sebuah ketertundaan pada maksud “//kata yang tak sempat diucapkan//”, namun tetap dirasa sebagai sesuatu yang utuh. “Kata” menjadi mendium dari sebuah ungkapan terimakasih, rasa kagum, ingin dari “kayu” yang sampai pada tahap tertentu lantaran “api”, yaitu “abu”. “kata” jika diucapkan akan menjadi ukuran, sejauh mana rasa terimaksih kayu akan tergambar. Bisa jadi uangkapan dari “kata” menjadi hal yang biasa, muluk-muluk ataupun tak sesuai dengan maksud perasaan dan menjadi hal yang tidak sederhana lagi. Ketika “kata” tak sempat di utarakan, maka ia akan menjadi hal yang tertangguh dalam benak, terbawa dalam sikap sehari-hari. Pada akhirnya sikap itulah yang benar-benar hidup dan menjadi ungkapan sebenarnya yang lebih utuh, tulus dan sederhana.
Namun sebelum imaji saya beterbangan kemana-mana dengan kata “sederhana”, kembali saya dihadirkan dengan nuansa lain dari makna “sederhana”. Baris ke-2 dan ke-3 adalah semacam penjelasan akan kata “sederhana”, bagaimana ia menjadi sifat mencinta dalam puisi ini.
Ada sebuah ketertundaan pada maksud “//kata yang tak sempat diucapkan//”, namun tetap dirasa sebagai sesuatu yang utuh. “Kata” menjadi mendium dari sebuah ungkapan terimakasih, rasa kagum, ingin dari “kayu” yang sampai pada tahap tertentu lantaran “api”, yaitu “abu”. “kata” jika diucapkan akan menjadi ukuran, sejauh mana rasa terimaksih kayu akan tergambar. Bisa jadi uangkapan dari “kata” menjadi hal yang biasa, muluk-muluk ataupun tak sesuai dengan maksud perasaan dan menjadi hal yang tidak sederhana lagi. Ketika “kata” tak sempat di utarakan, maka ia akan menjadi hal yang tertangguh dalam benak, terbawa dalam sikap sehari-hari. Pada akhirnya sikap itulah yang benar-benar hidup dan menjadi ungkapan sebenarnya yang lebih utuh, tulus dan sederhana.
Yang
Meniadakan
Aku ingin
mecintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Di lain hal, penggunaan metafor tersebut tidak
mengandaikan maksud saling meniadakan tetapi sebuah proses keberlanjutan. Jadi
keberlanjutan itu seolah kebutuhan yang mesti ada untuk sampai pada wujud
selanjutnya. Kayu tidak akan menjadi abu tanpa api membakarnya begitupula awan
tidak akan lenyap bila hujan tak mengurainya.
Proses peniadaan seolah tak terhentikan, bahkan barang sedetik pun. Oleh karena itu, “penyampain” pada cerita dalam puisi itu seolah terhalang oleh berlangsungnya proses. Namun justru dengan metaforis yang seperti ini ungkapan tersebut menghadirkan macam-macam penafsiran tentang mencinta.
Proses peniadaan seolah tak terhentikan, bahkan barang sedetik pun. Oleh karena itu, “penyampain” pada cerita dalam puisi itu seolah terhalang oleh berlangsungnya proses. Namun justru dengan metaforis yang seperti ini ungkapan tersebut menghadirkan macam-macam penafsiran tentang mencinta.
2.
Rupa
Cinta Sajak puisi Aku Ingin Mencintaimu Karya Sapardi Djoko
Damono.
Dalam sajak
ini terdapat gaya bahasa repetisi di awal setiap bait yang berfungsi untuk
menegaskan makna yang ingin disampaikan penyair keinginan untuk mencintai
kekasihnya secara sederhana, namun tulus. Ketulusan cinta ini diwujudkan
melalui kerelaan penyair untuk berkorban demi cintanya. Pengorbanan ini
digambarkan melalui dua metafora yang bermakna paralel. Metatora pertama
digambarkan sebagai kayu yang dibakar agar menjadi api yang menghidupkan
meskipun akan mengakibatkan kayu itu menjadi abu. Metafora kedua diwujudkan
melalui awan yang rela meniada agar hujan turun untuk menyuburkan
bumi.
Selain gaya
bahasa, kesejajaran makna juga didukung melalui pilihan kata yang bermakna
konotatif dan simbolik pada bait pertama. Kata “kayu”, “api”, dan “abu” adalah
kata-kata konkret yang memberi konotasi simbolik. Kayu adalah media yang
menjadi sumber terciptanya api. Namun untuk membuat api, kayu harus dibakar dan
menjadi abu. Makna konotatif “api” dapat diartikan sebagai semangat atau spirit.
Bila dikaitkan dengan konteks sajak ini, kata “api” menggambarkan cinta yang
berkobar. Pilihan penyair atas tiga kata konkret ini membuktikan bahwa ketika
kata-kata konkret yang sederhana dirangkai dengan tepat, makna yang dihasilkan
bisa menjadi kaya dan menyimbolkan maksud yang kuat.
Hal yang
sama juga berulang pada bait kedua. Pola kesejajaran ditunjukkan melalui kata
“awan” dan “hujan” yang menandakan hubungan sebab-akibat. Awan adalah kumpulan
uap air yang mengapung di udara. Kumpulan uap ini menjadi sumber terciptanya
hujan. Manakala hujan turun membasahi bumi, dengan sendirinya awan “tiada”.
Hukum alam yang logis ini dipakai penyair untuk menyimbolkan kerelaan seorang
kekasih untuk mengorbankan diri demi cinta. Ia mengasosiasikan dirinya dengan
awan dan rela meniada menjadi hujan, agar cintanya tumbuh subur, seperti hujan
yang menyuburkan bumi.
Sajak “Aku Ingin Mencintaimu” menyadarkan kita
bahwa cinta bukan persoalan yang rumit. Pada dasarnya, cinta sejati adalah
persoalan sederhana. Yang paling diperlukan bagi manusia adalah kesediaan diri
dan kerelaan hati untuk berkorban bagi orang yang dicintai. Cinta yang tulus
adalah kerelaan untuk berubah. Kita harus menanggalkan sifat egois yang
mementingkan diri dan mengubahnya menjadi sifat yang mengutamakan kebahagiaan
pasangan kita. Melalui sajak “Aku Ingin
Mencintaimu”, kita belajar dari kayu yang rela berubah menjadi abu dan
“habis” untuk mengobarkan api cinta. Atau, kita dapat mencontoh awan yang
meniada agar hujan turun.
D. Penutup
1. Ungkapan
Cinta puisi Aku Ingin Mencintaimu
Karya Sapardi Djoko Damono tampak pada kata.
a. Sederhana
b. Kata
c. Kayu
d. Api
e. Abu
f. Yang
meniadakan
g. Awan
h. Hujan
2. Rupa
Sajak Cinta puisi Aku Ingin Mencintaimu
Karya Sapardi Djoko Damono, terdapat gaya bahasa repetisi di
awal setiap bait yang berfungsi untuk menegaskan makna yang ingin disampaikan
penyair keinginan untuk mencintai kekasihnya secara sederhana, namun tulus.
Metatora pertama digambarkan sebagai kayu yang dibakar agar menjadi api yang
menghidupkan meskipun akan mengakibatkan kayu itu menjadi abu. Metafora kedua
diwujudkan melalui awan yang rela meniada agar hujan turun untuk menyuburkan
bumi.
Selain gaya
bahasa, kesejajaran makna juga didukung melalui pilihan kata yang bermakna
konotatif dan simbolik pada bait pertama dan kedua. Melalui sajak “Aku Ingin Mencintaimu”, kita belajar
dari kayu yang rela berubah menjadi abu dan “habis” untuk mengobarkan api
cinta. Atau, kita dapat mencontoh awan yang meniada agar hujan turun.
Daftar Pustaka
Wahyuningtyas,
Sri dan Wijaya Heru Santosa. 2011. Sastra:
Teori dan Implementasi. Surakarta: Yuma Pustaka.
Chaer,
abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian
Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Aku Ingin
Mencintaimu
Karya Sapardi
Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat
Diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu...
Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat
Disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada...


0 comments:
Post a Comment