- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/01/cara-mudah-pasang-gambar-dan-animasi.html#sthash.pfXeksQT.dpuf

Psikolinguistik makalah

Posted by Farida



Ungkapan Cinta dalam Puisi Aku Ingin Mencintaimu
Karya Sapardi Djoko Damono
Farida Asmarani (A310130194)

A.    Pendahuluan
Bahasa itu alat interaksi atau alat komunikasi di dalam masyarakat, sedangkan berbahasa merupakan  proses penyampaian informasi dalam berkomunikasi. Adanya bahasa karena sangat membantu masyarakat dan bahasa merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Manusia akan mampu menyampaikan maksud dan tujuannya dengan bahasa. Condillac (dalam Chaer, 2009: 31) berpendapat bahwa bahasa berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan yang bersifat naluri yang dibangkitkan oleh perasaan atau emosi yang kuat. Perasaan yang dirasakan manusia akan terlihat dalam bahasa yang digunakan.
Bahasa itu pencerminan dari perasaan atau hati seseorang. Seseorang akan merasa bahagia karena jiwanya yang merasakan suatu kondisi lebih baik. Keadaan jiwa seperti inilah yang mampu menghasilkan ungkapan perasaan.
Keadaan jiwa manusia akan selalu berubah seiring perasaan yang dialaminya. Psikolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa dan bahasa. Menurut Dardjowidjojo (2003: 7) psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam mereka berbahasa. Mental manusia yang selalu berubah, menghasilkan bahasa yang berbeda-beda.
Keadaan sangat mempengaruhi jiwa manusia bahagia maupun sedih. Bahasa yang akan dihasilkan oleh jiwa yang sedih itu akan terlihat jelas begitu sebaliknya dengan jiwa yang bahagia. Jiwa yang bahagia biasanya disebabkan oleh rasa cinta.
Ungkapan cinta mampu membuat semua jiwa manusia yang semula duka menjadi suka. Ungkapan merupakan salah satu bentuk konotasi atau kiasan yang biasa kita temukan dalam karya-karya sastra dewasa ini. Lain dengan peribahasa dan majas, ungkapan atau idiom merupakan gabungan kata yang menimbulkan makna baru, dan tidak dapat ditafsirkan dengan makna unsur kata yang membentuknya. Biasanya ditemukan pada karya sastra seperti pantun atau puisi, biasa juga disisipkan dalam pidato atau pembicaraan. Sering juga ungkapan-ungkapan orang dulu digunakan sebagai nasihat atau amanat.
Meskipun ungkapan cinta dapat diwujudkan dalam berbagai cara, terdapat persamaan dalam cara orang menanggapi cinta, yaitu pengorbanan. Seseorang yang benar-benar mencintai akan rela mengorbankan apa pun bagi kekasih hatinya. Pengorbanan cinta ini menjadi inti dari sajak pendek berjudul Aku Ingin Mencintaimu yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono pada 1989.


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan pendahuluan di atas ada 2 permasalahan yang perlu dikaji.
1.      Bagaimanakah ungkapan cinta puisi Aku Ingin mencintaimu?
2.      Bagaimanakah rupa cinta sajak puisi Aku Ingin Mencintaimu?












C.    Pembahasan
1.      Ungkapan Cinta puisi Aku Ingin Mencintaimu Karya Sapardi Djoko Damono.
Manusia adalah homo ludens yang punya hasrat, rangsangan dan ingin. Dalam perjalanannya, cinta adalah bagian yang tak bisa lepas dari perjumpaannya dengan “yang lain” yang terus saling tumpang tindih dengan rasa benci. Pada akhirnya cinta dan benci memiliki pengertiannya sendiri di benak masing-masing individu. Di antara hangar-bingar keanekaragaman yang terus menyeret kita ke dalamnya, arti cinta semakin sulit diterka dalam momen-momennya. Sinetron bilang cinta, pembunuhan menghunuskan cinta, koruptor menyelip cinta dan iklan pun menyatakan cinta. Seolah cinta terus menampak, mengolah dirinya dan muncul menjadi sesuatu.
Menurut Hamka, cinta adalah perasaan yang mesti ada pada setiap manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih, dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, dan perkara tercela lainnya. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, disana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi, dan lain-lain yang terpuji.
Saat panah asmara menancap di dada, berjuta perasaan berkecamuk. Suka cita, damai, bahagia, cemburu, khawatir, dan gelisah bergemuruh di dada. Perasaan yang campur aduk ini membuat setiap individu menanggapi dan menyatakan cinta dengan cara yang berbeda-beda. Mereka yang romantis akan mengungkapkan cinta dengan bunga. Yang praktis dan pragmatis akan menyatakan rasa kasmarannya dengan membelikan kekasihnya hadiah. Yang hedonis akan mengajak kekasih ke pesta mewah atau klub malam yang meriah untuk merayakan cinta.
Ungkapan cinta dalam puisi Aku Ingin Mencintaimu karya Sapardi Djoko Damono ini banyak mengandung maksud.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu

Pada baris pertama dari bait pertama ini terfokus pada nuansa kata “sederhana”. Kata ini mengategorikan keadaan (sifat) dari ungkapan sebelumnya, yaitu “mencintai”. Terlepas dari keterkaitanya dengan kata yang lain, kita akan mengandaikan kata tersebut dengan keseharian yang kita temui. “Sederhana” dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, Cet. Ke-3: 1990) dikategorikan kata sifat yang memiliki arti sedang, bersahaja, tidak banyak seluk-beluknya. Di sana dicontohkan hidupnya selalu bersahaja.
Dalam baris “//Aku ingin mencintaimu dengan sederhana//”, mengahadirkan keinginan cinta dengan (sikap) yang sederhana. Cinta yang dihadirkan bukan cinta yang lain, pasif atau progresif, nafsu atau hal yang mengawang, dan ataupun wujud yang lain. “Mencinta” di sini hadir dengan wajah yang sederhana, sedang dan tak berseluk-beluk.
Namun sebelum imaji saya beterbangan kemana-mana dengan kata “sederhana”, kembali saya dihadirkan dengan nuansa lain dari makna “sederhana”. Baris ke-2 dan ke-3 adalah semacam penjelasan akan kata “sederhana”, bagaimana ia menjadi sifat mencinta dalam puisi ini.
Ada sebuah ketertundaan pada maksud “//kata yang tak sempat diucapkan//”, namun tetap dirasa sebagai sesuatu yang utuh. “Kata” menjadi mendium dari sebuah ungkapan terimakasih, rasa kagum, ingin dari “kayu” yang sampai pada tahap tertentu lantaran “api”, yaitu “abu”. “kata” jika diucapkan akan menjadi ukuran, sejauh mana rasa terimaksih kayu akan tergambar. Bisa jadi uangkapan dari “kata” menjadi hal yang biasa, muluk-muluk ataupun tak sesuai dengan maksud perasaan dan menjadi hal yang tidak sederhana lagi. Ketika “kata” tak sempat di utarakan, maka ia akan menjadi hal yang tertangguh dalam benak, terbawa dalam sikap sehari-hari. Pada akhirnya sikap itulah yang benar-benar hidup dan menjadi ungkapan sebenarnya yang lebih utuh, tulus dan sederhana.
Yang Meniadakan
Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Di lain hal, penggunaan metafor tersebut tidak mengandaikan maksud saling meniadakan tetapi sebuah proses keberlanjutan. Jadi keberlanjutan itu seolah kebutuhan yang mesti ada untuk sampai pada wujud selanjutnya. Kayu tidak akan menjadi abu tanpa api membakarnya begitupula awan tidak akan lenyap bila hujan tak mengurainya.
Proses peniadaan seolah tak terhentikan, bahkan barang sedetik pun. Oleh karena itu, “penyampain” pada cerita dalam puisi itu seolah terhalang oleh berlangsungnya proses. Namun justru dengan metaforis yang seperti ini ungkapan tersebut menghadirkan macam-macam penafsiran tentang mencinta.

2.      Rupa Cinta Sajak puisi  Aku Ingin Mencintaimu Karya Sapardi Djoko Damono.
Dalam sajak ini terdapat gaya bahasa repetisi di awal setiap bait yang berfungsi untuk menegaskan makna yang ingin disampaikan penyair keinginan untuk mencintai kekasihnya secara sederhana, namun tulus. Ketulusan cinta ini diwujudkan melalui kerelaan penyair untuk berkorban demi cintanya. Pengorbanan ini digambarkan melalui dua metafora yang bermakna paralel. Metatora pertama digambarkan sebagai kayu yang dibakar agar menjadi api yang menghidupkan meskipun akan mengakibatkan kayu itu menjadi abu. Metafora kedua diwujudkan melalui awan yang rela meniada agar hujan turun untuk menyuburkan bumi.  
Selain gaya bahasa, kesejajaran makna juga didukung melalui pilihan kata yang bermakna konotatif dan simbolik pada bait pertama. Kata “kayu”, “api”, dan “abu” adalah kata-kata konkret yang memberi konotasi simbolik. Kayu adalah media yang menjadi sumber terciptanya api. Namun untuk membuat api, kayu harus dibakar dan menjadi abu. Makna konotatif “api” dapat diartikan sebagai semangat atau spirit. Bila dikaitkan dengan konteks sajak ini, kata “api” menggambarkan cinta yang berkobar. Pilihan penyair atas tiga kata konkret ini membuktikan bahwa ketika kata-kata konkret yang sederhana dirangkai dengan tepat, makna yang dihasilkan bisa menjadi kaya dan menyimbolkan maksud yang kuat. 
Hal yang sama juga berulang pada bait kedua. Pola kesejajaran ditunjukkan melalui kata “awan” dan “hujan” yang menandakan hubungan sebab-akibat. Awan adalah kumpulan uap air yang mengapung di udara. Kumpulan uap ini menjadi sumber terciptanya hujan. Manakala hujan turun membasahi bumi, dengan sendirinya awan “tiada”. Hukum alam yang logis ini dipakai penyair untuk menyimbolkan kerelaan seorang kekasih untuk mengorbankan diri demi cinta. Ia mengasosiasikan dirinya dengan awan dan rela meniada menjadi hujan, agar cintanya tumbuh subur, seperti hujan yang menyuburkan bumi. 
Sajak “Aku Ingin Mencintaimu” menyadarkan kita bahwa cinta bukan persoalan yang rumit. Pada dasarnya, cinta sejati adalah persoalan sederhana. Yang paling diperlukan bagi manusia adalah kesediaan diri dan kerelaan hati untuk berkorban bagi orang yang dicintai. Cinta yang tulus adalah kerelaan untuk berubah. Kita harus menanggalkan sifat egois yang mementingkan diri dan mengubahnya menjadi sifat yang mengutamakan kebahagiaan pasangan kita. Melalui sajak “Aku Ingin Mencintaimu”, kita belajar dari kayu yang rela berubah menjadi abu dan “habis” untuk mengobarkan api cinta. Atau, kita dapat mencontoh awan yang meniada agar hujan turun.
D.    Penutup
1.      Ungkapan Cinta puisi Aku Ingin Mencintaimu Karya Sapardi Djoko Damono tampak pada kata.
a.       Sederhana
b.      Kata
c.       Kayu
d.      Api
e.       Abu
f.       Yang meniadakan
g.      Awan
h.      Hujan
2.      Rupa Sajak Cinta puisi Aku Ingin Mencintaimu Karya Sapardi Djoko Damono, terdapat gaya bahasa repetisi di awal setiap bait yang berfungsi untuk menegaskan makna yang ingin disampaikan penyair keinginan untuk mencintai kekasihnya secara sederhana, namun tulus. Metatora pertama digambarkan sebagai kayu yang dibakar agar menjadi api yang menghidupkan meskipun akan mengakibatkan kayu itu menjadi abu. Metafora kedua diwujudkan melalui awan yang rela meniada agar hujan turun untuk menyuburkan bumi.  
Selain gaya bahasa, kesejajaran makna juga didukung melalui pilihan kata yang bermakna konotatif dan simbolik pada bait pertama dan kedua. Melalui sajak “Aku Ingin Mencintaimu”, kita belajar dari kayu yang rela berubah menjadi abu dan “habis” untuk mengobarkan api cinta. Atau, kita dapat mencontoh awan yang meniada agar hujan turun.

Daftar Pustaka
Wahyuningtyas, Sri dan Wijaya Heru Santosa. 2011. Sastra: Teori dan Implementasi. Surakarta: Yuma Pustaka.


Chaer, abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

Aku Ingin Mencintaimu
Karya Sapardi Djoko Damono


Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat
Diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu...

Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat
Disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada...

0 comments:

Post a Comment