- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/01/cara-mudah-pasang-gambar-dan-animasi.html#sthash.pfXeksQT.dpuf

Analisis Puisi

Posted by Farida



ANALISIS PUISI PERTEMUAN KARYA HILMI AKMAL DENGAN PENDEKATAN STRUKTURAL DAN SEMIOTIK
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah
Pengkajian Puisi
Dosen Pengampu: Adyana Sunanda, M.Pd



Disusun Oleh:
Nora Lufitasari                        A310130191





PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, karena penyusun telah menyelesaikan makalah yang berjudul ”Analisis Puisi Pertemuan Karya Hilmi Akmal dengan Pendekatan Struktural dan Semiotik”ini dengan baik.
Penyusunan makalah ini bukan hanya doa semata, namun tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak guna penyelesaiannya. Dalam penyusunan makalah ini juga banyak mendapat bantuan dan bimbingan sehingga hal itu sangat membantu penyelesaian makalah ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu.
Dengan segala kerendahan hati penyusun selalu menanti segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat dalam berbagai bidang dan dapat digunakan sebagai sumbangan pikiran untuk masa yang akan datang.

Surakarta,  Juni 2015
Penyusun






DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah............................................................................... 2
C.     Tujuan................................................................................................. 2
D.    Manfaat............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Analisis Berdasarkan Pendekatan Struktural.................................... 3
B.     Analisis Berdasarkan Pendekatan Semiotik...................................... 6
BAB III PENUTUP
A.    Simpulan............................................................................................. 9
B.     Saran................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 10
LAMPIRAN






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks. Pengertian struktur menunjuk pada susunan atau tata urutan unsur-unsur yang saling berhubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Unsur ini adalah ide dan emosi yang dituangkan sedangkan unsur bentuk adalah semua elemen linguis yang dipakai untuk menuangkan isi ke dalam unsur fakta cerita, sarana cerita, dan tema sastra (Wellek dan Warren, 1990:140).
Analisis strukturalisme merupakan prioritas utama sebelum diterapkannya analisis yang lain. Tanpa analisis tersebut, kebulatan makna yang digali dari karya tersebut tidak dapat ditangkap. Makna unsur-unsur karya sastra hanya dapat ditangkap, dinilai, dan dipahami sepenuhnya atas dasar pemahaman tempat dan fungsi unsur itu di dalam keseluruhan karya sastra.Dalam analisis semiotik kesastraan, pemahaman, dan penerapan konsep ikonisitas tampaknya memberikan sumbangan yang cukup berarti. Hal ini dikarenakan semiotik erat kaitannya dengan strukturalisme. Analisis ini dapat dimulai dengan mengkaji kebahasaan dengan menggunakan tataran-tataran dalam linguistik.
Makalah ini akan menganalisis puisi Pertemuan karya Hilmi Akmaldari dua pendekatan yaitu struktural dan semiotik. Apasaja unsur-unsur yang ada dalam puisi tersebut akan dianalisis dengan pendekatan struktural. Kemudian tanda serta simbol yang ada akan dianalisis dengan pendekatan semiotik. Kedua pendekatan ini akan saling berkaitan untuk menemukan makna yang terkandung dalam puisi tersebut.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, ada dua masalah yang perlu dikaji.
1.      Bagaimanakah analisis puisi Pertemuan berdasarkan pendekatan struktural?
2.      Bagaimanakah analisis puisi Pertemuan berdasarkan pendekatan semiotik?

C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, ada dua tujuan yang ingin dicapai.
1.      Untuk mendeskripsikan analisis yang terdapat dalam puisi Pertemuan berdasarkan pendekatan struktural.
2.      Untuk mendeskripsikan analisis yang terdapat dalam puisi Pertemuanberdasarkan pendekatan struktural.

D.    Manfaat
Berdasarkan tujuan di atas, ada dua manfaat yang ingin diperoleh dari kegiatan menganalisis puisi ini.
1.      Menambah pengetahuan mengenai cara menganalisis puisi baik untuk penulis maupun pembaca.
2.      Meningkatkan kemampuan dalam menganalisis puisi baik untuk penulis maupun pembaca.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Analisis Berdasarkan Pendekatan Struktural
1.      Teori Strukturalisme
Pendekatan struktural dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan strukturalisme Praha. Studi lingustik tidak lagi ditekankan pada sejarah perkembangannya, melainkan pada hubungan antar unsurnya. Sebuah karya sastra menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunnya. Di satu pihak, struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2013: 57).
Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini puisi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendiskripsikan fungsi hubungan antar unsur intrinsik puisi yang bersangkutan. Analisis struktural tak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur-unsur tertentu sebuah puisi, misalnya diksi, pencitraan, kata konkret dan lain-lain. Namun yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antar unsur itu, dan tujuan estetik serta makna keseluruhan yang ingin dicapai.
2.      Analisis Puisi
a.      Metode Puisi (Unsur Fisik)
1)      Diksi (diction)
Diksi merupakan pilihan kata yang dilakukan penyair dengan cermat, teliti, dan seselektif mungkin. Diksi yang terdapat dalam puisi Pertemuan banyak menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan menasbihkan, api, membakar, air, tak terbatas, merindu, alir, tanah, akar,  pembuluh,  urat-urat, reranting, dedaun,  bebunga, waktu, belatang, angin, hilang
2)      Citraan atau daya bayang (Imagery)
Citraan atau daya bayang merupakan gambaran angan yang timbul akibat penggunaan diksi yang ketat sehingga anganan pembaca menjadi hidup.
a)      Citraan pendengaran
-          Menasbihkan namamu
b)      Citraan Perasa
-          Mencintai namamu
-          Seperti air yang merindu alir
c)      Citraan Penglihatan
-          Seperti api yang membakar air
-          Mula-mula masuk tanah
-          Dalam namamu, Kulihat namaku
-          Hilang
3)      Kata konkret (the concrete word)
Kata konkret merupakan kata-kata yang secara denotatif sama, tetapi secara konotatif berbeda menurut kondisi dan situasi pemakaiannya.
a)      Kata Menasbihkan,lebihbisamewakilisuatukeadaanpenghambaan seseorang daripada kata menyebutkan, dan untuk ukuran dalam hal religius kata tersebut lebih halus.
b)      Kata membakardipilihkarenamerupakan simbol semangat yang membara dan memiliki ketegasan.
4)      Pigura Bahasa (figurative language)
Pigura bahasa merupakan susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang tumbuh dalam hati penulis. Pigura bahasa yang terdapat dalam puisi tersebut yaitu:
a)      Personifikasi
-          Seperti air yang merindu alir
b)      Hiperbola
-          Seperti api yang membakar air

5)      Irama dan rima (rhythm and rime)
Irama adalah tinggi-rendah, panjang-pendek, cepat-lambat suara. Rima adalah persamaan bunyi pada akhir larik.Rimaakhir setiap barisnya dalam puisi tersebut bebas, jadi tidak ada unsur penekanan bunyi tertentu seperti berikut ini.
Menasbihkan namamu
Seperti api yang membakar air
Meluap-luap
                        Tak terbatas
2        Hakikat Puisi
a.      Tema atau arti (sense)
Tema adalah pokok persoalan yang hendak disampaikan. Tema puisi Pertemuanini adalahkerinduan seseorang akan jalan yang lurus untuk bertemu dengan Tuhan.


b.      Rasa (feeling)
Rasa adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang terdapat dalam puisinya. Sikap penulis dalam puisi tersebut yaitu kerinduan seseorang terhadap cinta dari Tuhannya.
c.       Nada (tone)
Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca karya puisinya. Nada dalam puisi ini adalah nada kerinduan seseorang terhadap cinta dari Tuhannya. Penyair menceritakan kerinduannya pada jalan yang lurus untuk bisa bertemu dengan Tuhannya.
d.      Amanat (intention)
Amanat atau tujuan adalah sesuatu yang hendak disampaikan penyair kepada masyarakat lewat puisi yang ditulisnya. Amanat puisi ini adalah sebagai manusia yang hidup dengan memiliki kesalahan, kita harus senantiasa mencari jalan yang benar agar bisa mencapai kebahagiaan dan bertemu dengan Tuhan.

B. Analisis Berdasarkan Pendekatan Semiotik
1.      Teori Semiotik
a.      Teori Semiotic Peirce
Teori Peirce mengatakan bahwa sesuatu itu dapat disebut sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain. Sebuah tanda (representamen) haruslah mengacu (mewakili) sesuatu yang disebutnya sebagai objek (referent). Proses pewakilan tanda terhadap acuannya terjadi pada saat tanda itu ditafsirkan dalam hubunganya dengan yang diwakili. Hal itulah yang disebutnya sebagai interpretant, yaitu pemahaman makna yang timbul dengan kognisi (penerima tanda) lewat interpretasi. Proses pewakilan itu disebut semiosis. Semiosis adalah suatu proses dimana suatu tanda berfungsi sebagai tanda, yaitu mewakili sesuatu yang ditandainya (Hoed, 1992: 3). Proses semiosis yang menuntut kehadiran bersama antara tanda objek dan interpretant itu oleh Peirce disebut sebagai triadic.
b.      Teori Semiotik Saussure
Teori Saussure sebenarnya berkaitan dengan pengembangan teori linguistik secara umum, maka istilah-istilah yang dipakai untuk bidang kajian semiotik meminjam dari istilah-istilah dan model linguistik. Bahasa sebagai sebuah sistem tanda menurut Saussure, memiliki dua unsur yang tak terpisahkan: signifier dan signified, signifiant dan signifie, atau penanda dan petanda. Wujud significant (penanda) dapat berupa bunyi-bunyi ujaran atau huruf-huruf tulisan, sedang signifie (petanda) adalah unsur konseptual, gagasan, atau makna yang terkandung dalam penanda tersebut (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2013: 70).
2.      Analisis Puisi
a.       Pertemuanmerupakan tanda atau simbol dalam puisi ini. Kata ini merujuk suatu keadaan tertentu, yang memiliki makna bersatunya dua hal dalam situasi dan kondisi tertentu.
b.      Menasbihkanmerupakan sebuah tanda dalam puisi ini yang bermakna sebagai usaha untuk mengingat suatu hal dalam bentuk ucapan atau penyebutan.
c.       Membakar merupakan tanda yang bermakna sebagai berkobarnya semangat yang ada di dalam jiwa manusia.
d.      alir merupakan tanda yang bermakna sebagai suatu jalan yang harus ditempuh.
e.       Akar, pembuluh, dan urat-uratmerupakan tanda yang bermakna sebagai lika-liku dalam menempuh suatu perjalanan.
f.       Reranting, dedaun, dan bebungamerupakan tanda yang bermakna sebagai hasil yang akan dicapai setelah melalui jalan yang penuh lika-liku.
g.      Waktumerupakan tanda yang bermakna sebagai suatu proses yang sedang berlangsung atau berjalan.
h.      Hilang  merupakan tanda yang bermakna sebagai suatu keadaan yang lenyap. Dalam puisi ini bermakna bahwa dimana seorang hamba yang tidak menempuh jalan yang lurus akan lenyap dan hilang dihadapan Tuhan.













BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Puisi Pertemuan merupakan puisi karya Hilmi Akmal yang dapat dianalisisberdasarkan struktur pembangunnya dan tanda-tanda  (semiotik) yang ada dalam puisi tersebut. Berdasarkan analisis struktural terdapat dua unsur yaitu metode puisi dan hakikat puisi. Metode puisi terdiri dari diksi, pencitraan, kata konkret, pigura bahasa, dan irama/rima, sedangkan hakikat puisi terdiri dari tema, rasa, nada, dan amanat. Sementara analisis berdasarkan semiotik meliputi tanda-tanda yang terdapat di dalamnya, seperti pertemuan, menasbihkan, membakar, alir, akar, pembuluh, urat-urat, reranting, dedaun, bebunga, waktu, dan hilang.

B.     Saran
Makalah  ini disusun agar pembaca mengetahui analisis suatu karya sastra terutama puisi. Penulis berharap dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan pembaca mengenai analisis puisi berdasarkan struktur dan semiotik yang ada di dalamnya. Selain itu pembaca dapat menggunakan materi yang ada di makalah ini sebagai referensi dalam membuat makalah yang berhubungan dengan pembahasan tersebut.




DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wahyuningtyas, Sri dan Wijaya Heru Santosa. 2011. Sastra: Teori dan Implementasi. Surakarta: Yuma Pustaka.




































LAMPIRAN
           
Pertemuan
            Karya: Hilmi Akmal

Menasbihkan namamu
Seperti api yang membakar air
Meluap-luap
                        Tak terbatas

Mencintai namamu
Seperti air yang merindu alir
Mula-mula masuk tanah
Diisap akar lalu diserap pembuluh dan urat-urat
                        Menjadilah reranting
            Dedaun dan bebunga

Namamu adalah waktu
Yang menopang belatang dari hembus angin

Dalam namamu
Kulihat namaku

Hilang!

0 comments:

Post a Comment