Makalah Puisi
Posted by
ANALISIS PUISI PERTEMUAN KARYA HILMI AKMAL DENGAN
PENDEKATAN STRUKTURALISME DAN SEMIOTIK
Makalah
ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah
Pengkajian
Puisi
Dosen
Pengampu: Adyana Sunanda, M. Pd.
Disusun
Oleh:
Farida
Asmarani A310130194
PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah swt yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, karena telah menyelesaikan makalah yang
berjudul ”Analisis Puisi Pertemuan Karya Hilmi Akmal dengan Pendekatan Struktural dan
Semiotik”
ini dengan baik.
Penyusunan makalah ini bukan hanya doa semata, namun
tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak guna penyelesaiannya. Dalam
penyusunan makalah ini juga banyak mendapat bantuan dan bimbingan sehingga hal
itu sangat membantu penyelesaian makalah ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan
ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu.
Dengan segala kerendahan hati penyusun selalu menanti
segala kritik dan saran yang membangun
dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat dalam berbagai bidang dan
dapat digunakan sebagai sumbangan pikiran untuk masa yang akan datang.
Surakarta, Juni
2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL ............................................................................................... ........ i
KATA
PENGANTAR ............................................................................................. ....... ii
DAFTAR
ISI ............................................................................................................ ...... iii
BAB
I PENDAHULUAN ....................................................................................... ....... 1
A. Latar
Belakang .............................................................................................. ....... 1
B. Rumusan
Masalah ......................................................................................... ....... 3
C. Tujuan
Penulisan ........................................................................................... ....... 3
BAB II
PEMBAHASAN ......................................................................................... ....... 4
A. Analisis
Berdasarkan Pendekatan Struktural ....................................................... 4
B. Analisis
Berdasarkan Pendekatan Semiotik .................................................. ....... 8
BAB III PENUTUP ................................................................................................. ..... 11
A. Simpulan
....................................................................................................... ..... 11
B. Saran
............................................................................................................. ..... 11
DAFTAR
PUSTAKA .............................................................................................. ..... 12
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Setiap
orang memiliki cara yang seringkali berbeda dalam mengungkapkan pandangannya
atau permikirannya terhadap realitas yang ada di sekitar dan yang kita temui.
Karya sastra merupakan hasil proses kreatif seorang sastrawan. Pada proses
kreatif tersebut, tidak semata-mata hanya membutuhkan sebuah keterampilan, akan
tetapi aspek pengalaman hidup, intelektual, wawasan keilmuan terutama
kesusastraan, juga kejujuran sangat dibutuhkan dalam pembuatan karya sastra.
Hubungan
karya satra dengan masyarakat, dengan teknologi informasi yang menyertainya,
minat masyarakat terhadap manfaat penelitian interdisiplin, memberikan pengaruh
terhadap perkembangan teori sastra selanjutnya. Strukturalisme, yang telah
berhasil untuk memasuki hampir seluruh bidang kehidupan manusia, dianggap
sebagai salah satu teori modern yang berhasil membawa manusia pada pemahaman
secara maksimal.
Beberapa aliran dalam
ilmu sastra, seperti strukturalisme dan ilmu sastra linguistik, dengan tepat
atau tidak tepat, dinamakan diri semiotik. Semiotik ialah ilmu yang secara
sistematik mempelajari tanda-tanda dan lambang – lambang, system-sistem lambang
dan proses perlambangan. Dalam sastra, sistem simbol yang terpenting adalah
bahasa. Sesuai dengan hakikatnya, tanda tanda bahasa dikaitkan dengan denotatum
atas dasar perjanjian. Strukturalis mencoba mendeskripsikan sistem tanda
sebagai bahasa-bahasa.
Bahasa adalah salah
satu diantara banyak system tanda. Ilmu tentang sistem itu disebut “ semiotik ”
biasa dipandang bahwa strukturalisme dan semiotik termasuk kedalam bidang
teoretis yang sama. Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang memiliki
banyak makna dan makna teori apa untuk membedah makna tersebut. Puisi merupakan
ungkapan perasaan penulis yang diterjemahkan dalam susunan kata-kata yang
membuat bait-bait berirama dan memiliki makna yang dalam.
Puisi selalu terkait
dengan emosi, pengalaman, sikap, dan pendapat-pendapat tentang situasi atau kejadian
yang ditampilkan secara abstrak atau implisit. Alasan yang mendorong
dilakukannya penelitian dengan pendekatan strukturalisme semiotik pada puisi
berjudul Puisi Berjudul “Pertemuan” karya Hilmi Akmal. Pertama karena dalam
puisi tersebut banyak penggunaan bahasa sastra yang sulit di mengerti oleh
sebagian orang, sehingga dilakukan penelitian secara structural semiotik. Kedua,
karena puisi tersebut menceritakan tentang manusia dan Tuhannya yang menarik
untuk dijadikan renungan diri kita, dengan bahasa yang menarik dan memilihan
kata yang sesuai tetapi sulit dimengerti jika tidak diteliti terlebih dahulu
sehingga dilakukan penelitian secara structural semiotik.
Dari uraian diatas,
tampak perlu adanya sebuah analisis puisi yang uraiannya lebih mendalam,
sistematis, tetapi praktis dapat dipergunakan untuk memahami puisi secara lebih
mudah, oleh karena itu peneliti memfokuskan kajiannya dengan judul. Analisis
Puisi Berjudul Pertemuan karya Hilmi
Akmal dengan Pendekatan Strukturalisme dan Semiotik.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat
dirumuskan masalah.
1. Bagaimanakah
analisis puisi Pertemuan berdasarkan
pendekatan strukturalisme?
2. Bagaimanakah
analisis puisi Pertemuan berdasarkan
pendekatan semiotik?
C.
Tujuan
Penulisan
Berdasarkan rumusan
masalah di atas, ada dua tujuan yang perlu dicapai.
1. Untuk
Mendeskripsikan analisis puisi Pertemuan
berdasarkan pendekatan strukturalisme.
2. Untuk
Mendeskripsikan analisis puisi Pertemuan
berdasarkan pendekatan semiotik.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Analisis
dari Pendekatan Struktural
1.
Teori
Strukturalisme
Strukturalisme
pada dasarnya merupakan cara berpikir tentang dunia yang terutama berhubungan
dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. Dalam pandangan ini karya
sastra diasumsikan sebagai fenomena yang memiliki struktur yang saling terkait
satu sama lain. Struktur tersebut memiliki bagian yang kompleks, sehingga
pemaknaan harus diarahkan ke dalam hubngan antar unsure secara keseluruhan akan
lebih berarti disbanding bagian atau fragmen struktur ( Endraswara, 2004: 49).
Strukturalisme
adalah suatu metode analisis yang dikembangkan oleh banyak semiotisian berbasis
model lingusitik Saussure. Strukturalis bertujuan untuk mendeskripsikan
keseluruhan pengorganisasian sistem tanda sebagai bahasa seperti yang dilakukan
Lévi-Strauss dan mitos, keteraturan hubungan dan totemisme, Lacan dan alam
bawah sadar; serta Barthes dan Greimas dengan grammar pada narasi. Mereka
melakukan suatu pencarian untuk suatu struktur yang tersembunyi yang terletak
di bawah permukaan yang tampak dari suatu fenomena.
Strukturalisme
sastra tumbuh subur di tahun 1960-an sebagai usaha untuk menerapkan pada
kesusastraan metode dan kemampuan memahami dari pendiri linguistik struktural
modern, Ferdinand de Saussure. Saussure memandang bahasa sebagai sebuah system
tanda, yang harus dipelajari secara ‘sinkronis’ maksudnya dipelajari sebagai
satu sistem yang lengkap pada satu waktu tertentu dan bukan secara diakronis
yaitu dalam perkembangan sejarahnya. Menurut Waluyo (1991: 28) puisi terdiri atas
dua unsur pokok , yakni struktur fisik dan struktur batin. Struktur batin puisi
terdiri dari atas tema, nada perasaan , dan amanat; sedangkan sedangkan
struktur fiksi puisi terdiri atas; diksi, pengimajian, kata konkert, majas,
versifikasi, dan tipografi.
2.
Analisis
Puisi
a.
Metode Puisi
1)
Diksi (diction)
Diksi
adalah pilihan kata yang dilakukan penyair dengan cermat, teliti, dan selektif
mungkin. Diksi dalam puisi “Pertemuan”
ialah Menasbihkan,
api, membakar, tak terbatas, air, merindu, alir, akar, pembuluh, urat-urat,
reranting, dedaun, bebunga, belatang, angin, hilang.
2)
Citraan atau Daya Bayang (imagery)
Citraan
merupakan gambaran agan yang timbul akibat penggunaan diksi yang ketat sehingga
anganan pembaca menjadi hidup.
a)
Citraan Pendengaran
(1) Menasbihkan namamu
b)
Citraan
Penglihatan
(1) Kulihat namaku
(2) Hilang!
c)
Citraan
Perasa
(1) air yang merindu alir
d)
Citraan Gerak
(1)
Mula-mula masuk tanah
(2)
Diisap akar lalu diserap pembuluh dan urat-urat
3)
Kata Konkret (the concrete word)
Kata konkret
merupakan kata-kata yang secara konotatif berbeda menurut kondisi dan situasi
pemakainya. Kata konkret dalam puisi Pertemuan
ialah “menasbihkan”, kata tersebut
kadang disamakan dengan kata “menyebutkan”
tetapi karena kata menasbihkan dirasa lebih halus dan sopan untuk hamba dengan
Sang Pencipta.
4)
Pigura Bahasa (figurative language)
Pigura bahasa
merupakan susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang tumbuh dalam hati
penulis. Pigura bahasa dalam puisi salju sebagai berikut.
a) Hiperbola
api yang membakar air
Namamu adalah waktu
b) Personifikasi
air yang merindu alir
5)
Irama dan Rima (rhythm and rime)
Irama adalah
tinggi-rendah, panjang-pendek, cepat-lambat suara. Rima adalah persamaan bunyi
pada akhir larik. Irama dan rima pada puisi salju adalah sebagai berikut.
a.
Irama
1)
Menasbihkan namamu
2)
Seperti api yang membakar air
3)
Mencintai namamu
b.
Rima
1)
Akhir
larik pertama dan keempat terdapat persamaan bunyi vokal /u/.
2)
Akhir
larik kedua dan kelima terdapat persamaan bunyi konsonan /r/.
b. Hakikat
Puisi
1) Tema
atau Arti (sense)
Tema
merupakan pokok persoalan yang hendak disampaikan. Puisi Pertemuan menggambarkan sebuah tema tentang seseorang yang
merindukan jalan kebenaran dan jalan yang lurus, yaitu Tuhan YME.
2) Rasa
(feeling)
Rasa
merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang terdapat dalam puisinya.
Rasa yang diekspresikan penyair adalah kerinduan seseorang terhadap cinta dari
Tuhan YME.
3) Nada
(tone)
Nada
merupakan sikap penyair terhadap pembaca karya puisinya. Sikap penyair terhadap pembaca yaitu kerinduan dan
untuk mengingatkan. Selama hidup manusia selalu ada yang mengawasi. Tuhan YME
yang selalu bersama kita. Disetiap urat nadi kita, nafas kita, dan hidup kita.
4) Tujuan
atau Amanat (intention)
Tujuan
atau amanat merupakan sesuatu yang hendak disampaikan penyair kepada masyarakat
lewat puisi yang ditulisnya. Amanat puisi Pertemuan adalah kita sebagai manusia
yang diciptakan oleh Allah harus menyadari dimana tempat kita berpijak
sekarang, karena dimanapun tempatnya Allah selalu mengawasi kita. Hendaknya
kita sebagai makhluk ciptaan-Nya selalu berjalan di jalan-Nya dan selalu
menyebut nama-Nya agar kita dekat dengan Allah.
B.
Analisis
dari Pendekatan Semiotik
1.
Teori
Semiotik
Semiotik adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji
tanda (Hoed,1992: 2). Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain
dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan lain-lain. Jadi, yang
dapat menjadi tanda sebenarnya bukan hanya bahasa saja, melainkan berbagai hal
yang melingkupi kehidupan ini –walau harus diakui bahwa bahasa adalah sistem
tanda yang paling lengkap dan sempurna .
Teori Peirce mengatakan bahwa sesuatu itu dapat disebut
sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain. Sebuah tanda –yang disebutnya
sebagai representamen– haruslah mengacu (atau mewakili) sesuatu yang disebutnya
sebagai objek (acuan, ia juga menyebutnya sebagai designatum, detotatum, dan
dewasa ini orang menyebutnya dengan istilah referent). Teori Saussure
sebenarnya berkaitan dengan pengembangan teori linguistik secara umum, maka
istilah-istilah yang dipakai (oleh para penganutnya pun) untuk bidang kajian
semiotik meminjam dari istilah-istilah dan model linguistik. Bahasa sebagai
sebuah sistem tanda menurut Saussure, memiliki dua unsure yang tak terpisahkan:
signifier dan signified, signifiant dan
signifie, atau penanda dan petanda.
Wujud significant (penanda) dapat berupa bunyi-bunyi ujaran
atau huruf-huruf tulisan, sedang signifie (petanda) adalah unsur konseptual,
gagasan, atau makna yang terkandung dalam penanda tersebut (Abrams, 1981: 171).
Menurut Todorov (1985: 12), kajian dikelompokkan berdasarkan aspek verbal,
sintaksis, dan semantik, sedang menurut kaum formalis Rusia dibedakan ke dalam
wilayah kajian stilistika, komposisi, dan tematik. Kajian semiotik karya
sastra, dengan demikian dapat dimulai dengan mengkaji kebahasaannya dengan menggunakan
tataran-tataran seperti dalam studi linguistik.
2.
Analisis
a.
Pertemuan
merupakan tanda atau simbol dalam puisi ini. Kata ini merujuk pada suatu
keadaan tertentu, yang memiliki makna bersatunya dua hal dalam situasi dan
kondisi tertentu.
b.
Menasbihkan
merupakan tanda atau simbol dalam puisi ini. Kata ini mempunyai makna sebagai
usaha untuk mengingat suatu hal dalam bentuk ucapan.
c.
Api
merupakan tanda dalam puisi ini yang bermakna sebagai sumber semangat atau
kekuatan dalam jiwa manusia.
d.
Membakar
merupakan tanda dalam puisi ini yang memiliki makna sebagai tanda semangat yang
berkobar-kobar.
e.
Alir
merupakan tanda dalam puisi ini yang bermakna sebagai jalan kehidupan manusia
menuju kebenaran.
f.
Akar,
Pembuluh, Urat-urat, merupakan tanda dalam
puisi ini yang memiliki makna urutan jalan atau lika-liku kehidupan yang
ditempuh manusia untuk menempuh jalan kebenaran dan jalan yang terang. Reranting, Dedaun, Bebunga tanda yang
memiliki makna hasil dari proses kehidupan.
g.
Waktu
merupakan tanda dalam puisi ini yang memiliki makna proses atau sesuatu yang
berlangsung.
h.
Hilang
merupakan tanda dalam puisi ini yang bermakna sebagai sesuatu yang lenyap dan
tidak kentara.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Puisi Pertemuan karya Hilmi Akmal ini
dianalisis dengan dua pendekatan yaitu strukturalisme dan semiotik. Strukturalisme
adalah suatu metode analisis yang dikembangkan oleh banyak semiotisian berbasis
model lingusitik Saussure. Menurut Waluyo (1991: 28) puisi terdiri atas dua
unsur pokok , yakni struktur fisik dan struktur batin. Struktur batin puisi
terdiri dari atas tema, nada perasaan , dan amanat; sedangkan sedangkan
struktur fiksi puisi terdiri atas; diksi, pengimajian, kata konkert, majas,
versifikasi, dan tipografi. Teori Peirce mengatakan bahwa sesuatu itu dapat disebut
sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain. Bahasa sebagai sebuah sistem
tanda menurut Saussure, memiliki dua unsure yang tak terpisahkan: signifier dan signified, signifiant dan
signifie, atau penanda dan petanda.
B.
Saran
Makalah ini disusun
agar pembaca mengetahui analisis dalam karya sastra. Dalam menganalisis suatu
karya sastra terutama puisi, sangat memerlukan pendekatan struktural dan semiotik. Karena pendekatan ini
merupakan langkah dasar untuk menemukan makna. Oleh karena itu, pendekatan ini
diharapkan mampu membantu menemukan maksud dari puisi Pertemuan.
DAFTAR
PUSTAKA
Endaswara ,
Suwaedi, 2005. Metode Teori Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Buana Pustaka
Pradopo,
RachmatDjoko. 1987. Pengkajian Puisi.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
LAMPIRAN
Pertemuan
Karya: Hilmi Akmal
Menasbihkan namamu
Seperti api yang membakar air
Meluap-luap
Tak
terbatas
Mencintai namamu
Seperti air yang merindu alir
Mula-mula masuk tanah
Diisap akar lalu diserap pembuluh dan urat-urat
Menjadilah reranting
Dedaun dan bebunga
Namamu adalah waktu
Yang menopang belatang dari hembus angin
Dalam namamu
Kulihat namaku


0 comments:
Post a Comment