Tugas Kuliah
Sikap Masyarakat Jelang
Pemilu 2014
Oleh: Farida
Asmarani/A310130194/2E
Menjelang Pemilihan Presiden tahun 2014 masyarakat desa
Tengger disibukkan dengan pilihannya masing-masing. Seperti yang biasanya
masyarakat desa ini lakukan dengan membuat gapura yang bertuliskan nama Partai
yang dipilihnya. Banyak poster-poster yang ada dipinggir jalan tetapi yang jadi
permasalahan jika poster tersebut bukan Partai yang dipilih maka poster lainnya
akan dibuang.
Masalah seperti ini bukan hanya di Desa Tengger ini
saja, tetapi di desa lain seperti desa Bulukerto jauh lebih tragis,
poster-poster yang bukan pilihannya akan di sobek, jadi lebih terlihat jelas
keburukannya. Purwanto salah satu masyarakat desa Tengger juga menyatakan bahwa
masyarakat tidak seantusias ini membuat segalanya jika tidak ada uang. Sungguh
pemikiran yang dangkal. Masyarakat ternyata melakukan semua ini berlandaskan
uang bukan dari hati mereka sendiri. Dengan banyaknya pemikiran-pemikiran yang
seperti ini masyarakat yang bermoral pun akan ikut-ikutan dengan jalan
pemikiran masyarakat yang begitu buruk.
Hal seperti ini bukan hanya dilakukan dalam
pemilihan presiden saja, tetapi pemilu yang lain juga. Banyak masyarakat yang mengeluh dan kecewa karena di masa
pimpinan yang sekarang ekonomi selalu naik, jadi mereka kali ini
mempertimbangkannya dengan baik-baik menjelang pemilu, tapi dengan sikap
masyarakat yang sekarang harapan itu akan semu. Ada uang ada pemilihan, ujar
Pak Parman selaku ketua perkumpulan di desa itu.
Sepertinya
menjelang Pemilu 2014 ini orang-orang muslim sudah melupakan hadits, Sabda
Rasulullah saw : “Orang muslim yang baik adalah yang muslim lainnya aman dari
gangguan ucapannya dan tangannya, dan orang yang Hijrah (tergolong kelompok
Muhajirin) adalah yang meninggalkan apa apa yang dilarang Allah” (Shahih
Bukhari).
Banyak
yang tidak mampu menjaga lidahnya untuk mengejek orang lain. Menjelek-jelekkan
partai lain, sampai-sampai masyarakat hilang akal dengan merusak poster Partai
lain. Masyarakat lupa jika memilih pemimpin yang menang karena bantuan uang
maka rakyat sendirilah yang menderita, karena pada awalnya pemimpin yang
dipilih sudah tidak memiliki sifat yang baik, yang bisa memberikan contoh pada
masyarakatnya. Mestinya harus ada sinergi bagaimana memasukkan banyak
orang-orang sholeh ke DPR. Jangan waktu itu hanya di habiskan untuk mementingkan kepentingan sendiri dan materi.
Sebagai
masyarakat yang baik, kita tidap harus memilih pemimpin dari yang bermateri
banyak. Itu benar. Dari Partai mana saja. Silahkan pilih yang sholeh yang biasa
memberikan manfaat kepada masyarakat. Tidak ada orang yang sempurna di dunia
ini. Begitu pula tidak ada Capres yang sempurna. Maka pilihlah yang
keburukannya lebih sedikit atau yang lebih suka diam dibanding yang banyak
bicara.
Imam Ahmad bin Hambal, pernah di tanyakan, jika ada 2 Calon Pemimpin Perang, yang satu adalah orang sholeh tapi lemah(kurang jiwa leadershipnya dan kurang pengalaman), dan satu lagi adalah Faajir (berdosa) tapi kuat (leadershipnya dan pengalamannya).
Imam Ahmad bin Hambal, pernah di tanyakan, jika ada 2 Calon Pemimpin Perang, yang satu adalah orang sholeh tapi lemah(kurang jiwa leadershipnya dan kurang pengalaman), dan satu lagi adalah Faajir (berdosa) tapi kuat (leadershipnya dan pengalamannya).
Imam Ahmad
mengatakan , pilihlah yang Faajir
(berdosa), tapi kuat. Karena Kuatnya dia akan memberikan manfaat bagi
tentaranya. Sedangkan Faajirnya adalah untuk dirinya sendiri. Sedangkan orang
yang sholeh itu kesholehannya untuk dirinya sendiri, tapi lemahnya akan
memberikan pengaruhnya bagi orang banyak.
Saudaraku, yang idealnya tentu saja yang sholeh dan kuat, tapi kadang, kita di hadapkan dengan kondisi yang tidak ideal. Maka, kita memilih yang memberikan manfaat bagi orang banyak. Imam Ahmad juga tidak mengatakan, jangan memilih keduanya alias GOLPUT. Dalam kondisi tidak ideal seperti sekarang ini, bagaimana kita bisa meminimalkan kerusakan bagi masyarakat dan rakyat.
Saudaraku, yang idealnya tentu saja yang sholeh dan kuat, tapi kadang, kita di hadapkan dengan kondisi yang tidak ideal. Maka, kita memilih yang memberikan manfaat bagi orang banyak. Imam Ahmad juga tidak mengatakan, jangan memilih keduanya alias GOLPUT. Dalam kondisi tidak ideal seperti sekarang ini, bagaimana kita bisa meminimalkan kerusakan bagi masyarakat dan rakyat.
Terlepas dari apapun pilihannya, marilah tetap
peduli dan berharap munculnya figur tokoh pemimpin yang semakin baik. Rasanya ‘kaderisasi’
pemimpin dan elit politik di Indonesia masih sangat perlu perbaikan. Dan
masyarakat berharap banyak pada partai yang belum terkontaminasi dalam
percaturan politik dan birokrasi di negeri kita ini, untuk membawa perubahan baru dan merestorasi
republik ini untuk kembali pada tatanan yang semestinya dilakukan oleh bangsa
ini sesuai falsafah hidup bangsa yang sudah disepakati bersama sejak Indonesia
merdeka. Amin


0 comments:
Post a Comment