- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/01/cara-mudah-pasang-gambar-dan-animasi.html#sthash.pfXeksQT.dpuf

Analisis Stilistika DMBB

Posted by Farida



KAJIAN STILISTIKA CERPEN “DILARANG MENCINTAI BUNGA-BUNGA”
KARYA KUNTOWIJOYO DAN PEMAKNAANNYA
Makalah ini Disusun untuk  Memenuhi Salah satu Tugas Mata Kuliah Stilistika
Pengampu: Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum






Oleh
Farida Asmarani
A310130194


PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016





A.    Pendahuluan
Karya sastra merupakan wujud dari hasil pemikiran manusia. Karya sastra diciptakan untuk dinikmati dan diapresiasi. Dalam hal ini setiap penulis memiliki cara dalam mengemukakan gagasan dan gambarannya untuk menghasilkan efek-efek tertentu bagi pembacanya, Secara manyeluruh kajian stilistika berperan untuk membantu menganalisis dan memberikan gambaran secara lengkap bagaimana nilai sebuah karya sastra.
Karya sastra sebagai kajian dari stilistik yang menggunakan gaya bahasa sastra sebagai media untuk menemukan nilai estetisnya. Aminuddin (1997: 67) mengemukakan terdapat  jenis karya sastra yaitu puisi dan prosa fiksi. Dalam hal ini perbedaan karakteristik karya sastra mengakibatkan perbedaan dalam tahapan pemaknaan dan penafsiran ciri dan penggambarannya.
Pada lingkupnya  puisi diciptakan oleh seseorang dengan melukiskan dan mengekspresikan watak-watak yang penting si pengarang, bukan hanya menciptakan keindahan. Aminuddin (1997: 65) menyatakan dalam puisi misalnya membutuhkan efek-efek emotif yang mempengaruhi karya sastra. Memperoleh efek-efek tersebut dapat melalui kebahasaan, paduan bunyi, penggunaan tanda baca, cara penulisan dan lain sebagainya. Dengan kriteria tersebut membantu dalam menganalisis sebuah cerpen. Berdasarkan kriteria tersebut dipilih cerpen dengan judul Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” Karya Kuntowijoyo Dan Pemaknaannya untuk dianalisis.
Cerpen atau cerita pendek sebagai suatu karya seni berfungsi sebagai notulen kehidupan. Pengarang dengan daya imajinasi yang dimilikinya tidak akan bisa tertidur dengan nyaman sebelum semua peristiwa itu ditulis, yang akhirnya dapat dibaca, dipahami, dan direntangkan oleh siapa saja. Dengan demikian apabila seorang membaca cerpen diharapkan dapat mengetahui seluk beluk peristiwa kehidupan, tanpa merasa digurui. Kuntowijoyo sebagai pengarang selalu memanfaatkan diksi (gaya kata) dan citraan dalam setiap karyanya. Pemanfaatan ini beliau lakukan agar pembaca lebih tertarik dengan karyanya serta untuk menciptakan efek tertentu sehingga pembaca seolah-olah merasakan secara langsung peristiwa yang terjadi di dalam cerpen. Tujuan lainnya ialah pengarang ingin menunjukkan kekhasannya dalam berkarya lewat penggunaan diksi dan citraan.

B.     Kajian Teoritis
1.      Style ‘Gaya Bahasa’
Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stylus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Gaya bahasa atau style menjadi masalah atau bagian dari diksi atau pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frasa, atau klausa tertentu untuk menghadapi situasi tertentu.
Bila kita melihat gaya secara umum, kita dapat mengatakan bahwa gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya. Dilihat dari segi bahasa, gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak, dan kemampuan seseorang yang mempergunakan bahasa itu. Akhirnya style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa) (Keraf, 2005: 113).

2. Stilistika
Secara harfiyah, stilistika berasal dari bahasa Inggris: stylistics, yang berarti studi mengenai style 'gaya bahasa' atau 'bahasa bergaya'. Adapun secara istilah, stilistika (stylistics) adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra (Abrams, dalam Al Ma’ruf, 2012:8). Dapat dikatakan bahwa stilistika adalah proses menganalisis karya sastra dengan mengkaji unsur-unsur bahasa sebagai medium karya sastra yang digunakan sastrawan sehingga terlihat bagaimana perlakuan sastrawan terhadap bahasa dalam rangka menuangkan gagasannya (subject matter). Oleh sebab itu, semua proses yang berhubungan dengan analisis bahasa karya sastra dikerahkan untuk mengungkapkan aspek kebahasaan dalam karya sastra tersebut, seperti diksi, kalimat, penggunaan bahasa kias atau bahasa figuratif (figurative language), bentuk-bentuk wacana, dan sarana retorika yang lain (Cuddon, dalam Al Ma’ruf, 2012:8).

3.   Teori Semiotika
Semiotik adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda (Hoed dalam Nurgiyantoro, 2013: 67). Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan lain-lain. Teori Peirce mengatakan bahwa sesuatu itu dapat disebut sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain. Sebuah tanda –yang disebutnya sebagai representamen– haruslah mengacu (atau mewakili) sesuatu yang disebutnya sebagai objek (acuan, ia juga menyebutnya sebagai designatum, detotatum, dan dewasa ini orang menyebutnya dengan istilah referent).
Teori Saussure sebenarnya berkaitan dengan pengembangan teori linguistik secara umum, maka istilah-istilah yang dipakai (oleh para penganutnya pun) untuk bidang kajian semiotik meminjam dari istilah-istilah dan model linguistik. Bahasa sebagai sebuah sistem tanda menurut Saussure, memiliki dua unsure yang tak terpisahkan: signifier dan signified, signifiant dan signifie, atau penanda dan petanda.

C.    Latar Sosiohistoris Kuntowijoyo dan Kondisi Sosial Indonesia
1. Latar Sosiohistoris
Kuntowijoyo dilahirkan di Bantul pada 18 September 1943. Ia merupakan seorang sastrawan sekaligus guru besar di salah satu Universitas di Yoyakarta. Ia menikah dengan seorang perempuan yang bernama Susiloningsih dan dikaruniai dua orang anak. Riwayat pendidikan Kuntowijoyo adalah Sekolah Dasar di Sekolah Rakyat Negeri Klaten dan lulus tahun 1956. Kemudian beliau menlanjutkan pendidikannya di SMPN Klaten dan lulus tahun 1959. Kuntowijoyo melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri daerah Surakarta dan lulus tahun 1962. Lulus dari SMA beliau terdaftar sebagai mahasiswa di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta dan lulus tahun 1969. Beliau melanjutkan kuliah S2 di University of Connecticut dan meraih gelar master 1974. Terakhir ia mendapatkan gelar Ph.D di Universitas Colombia tahun 1990. Kemudian pada tahun 2005 beliau meninggal akibat virus yang menyerang otaknya.
Kuntowijoyo sebagai seorang sastrawan tentu sudah banyak melahirkan karya-karya terbaiknya. Adapun karya-karya beliau, diantaranya Awang-Uwung (1975), novel Khotbah di Atas Bukit (1976), cerpen Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (Kompas, Minggu, 24 April  1994), cerpen Lurah (Kompas, Minggu, 14 Agustus 1994), cerpen Pistol Perdamaian (Kompas, Minggu, 29 Januari 1995), cerpen Sampan Asmara (Kompas, Minggu, 25 Juni 1995), cerpen Ramon Fernandez (Kompas, Minggu, 29 Oktober 1995), cerpen Anjing-Anjing yang Menyerbu Kuburan (Kompas, Minggu, 24 Maret 1995), cerpen Rumah yang Terbakar (Kompas, Minggu, 4 Agustus 1996), cerpen Jangan Dikubur sebagai Pahlawan (Kompas, Minggu, 10 November 1996), cerpen Perang Vietnam di Storrs (Kompas, Minggu, 5 Januari 1997), cerpen Gigi (Kompas, Minggu, 11 Januari 1998), cerpen Abe Smitt (Kompas, Minggu, 22 Maret 1998).Mengusir Matahari (1999).Novel Mantra Penjinak Ular (2000), cerpen Tawanan (Kompas, Minggu, 8 Juli 2001), cerpen Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi (Kompas, Minggu, 18 Mei 2003), cerpen Rt 03 Rw 22 Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana” (Kompas, Minggu, 4 April 2004).



2. Kondisi Sosial
Dalam kumpulan cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”, Kuntowijoyo berusaha menunjukkan perhatiaannya terhadap berbagai masalah sosial yang tampak terlihat sepele. Kondisi pada tahun 1990an inilah yang pada akhirnya menjadikan Kuntowijoyo menelusuri pikiran dan persaan kecil berbagai jenis manusia yang sering tampak kebingungan ketika harus menghadapi situasi soaial tertentu. Pemikiran orang zaman dahulu dengan orang zaman sekarang berbeda, yang dulu kuno dan orang zaman sekarang memiliki pemikiran yang maju dan modern. Isi dari cerpen tersebut sebagai bentuk penggambaran Kuntowijoyo tentang dua masyarakat yang berbeda, yaitu masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan.

D.      Analisis Stilistika Cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” Karya Kuntowijoyo
Sebagai unsur karya sastra. Style ‘gaya bahasa’ adalah sarana sastra yang menjadi media bagi sastrawan untuk mengekspresikan gagasannya. Dalam hal ini style ‘gaya bahasa’ merupakan sistem tanda tingkat pertama dalan konvensi sastra  (Al-Ma’ruf, 2012: 181)
Kekhasan stilistika pada cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” Karya Kuntowijoyo terlihat pada pemanfaatan tiga bentuk kebahasaam yakni gaya kata (diksi), bahasa figuratif, dan citraan.
1.      Gaya Kata (Diksi)
Diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata-kata yang dilakukan oleh pengarang dalam karyanya guna menciptakan efek makna tertentu (Al-Ma’ruf, 2012: 49). Kata merupakan unsur bahasa yang paling esensial dalam karya sastra. Karena itu dalam pemilihannya para sastrawan berusaha agar kata-kata yang digunakannya mengandung kepadatan dan intensitasnya serta agar selaras dengan sarana komunikasi  puitis lainnya.
Dalam cerpennya Kuntowijoyo mengkisahkan seorang anak laki-laki bernama Buyung yang menyukai bunga tetapi ditentang keras oleh Ayahnya. Ayahnya adalah seorang pekerja bengkel dan tak kenal lelah. Pendiriannya malas adalah musuh besar laki-laki dan bunga hanya untuk perempuan.
Di kota, si anak berkenalan dengan sorang kakek. Mula-mula diselubungi serba rahasia, kalau bukan takhayul, yang memilih bunga sebagai lambang kehidupan. Dalam perlambangan itu, ia menggunakan kontras untuk menawarkan makna. Anak itu berada dalam tegangan antara kakek dan ayah, bunga dan mesin, ketenangan jiwa dan kegemuruhan kerja, surga dan neraka. Di rumah kakek, si anak belajar mencintai bunga, mencari ketenangan jiwa, dan kehidupan sempurna. Ayahnya menjadikan rumahnya sebuah bengkel yang bising oleh suara pukulan palu. Ayah memang berkuasa atas anak, memaksanya melupakan “bunga” dan melumurinya dengan kerja. Dalam ceritanya, terasa dialog antara Kakek dan sang anak yang menjadi tidak ringan lagi, bahkan melampaui takaran nalar sang bocah, misalnya saat mereka berdialog untuk mencari kesempurnaan hidup dalam kutipan
“Rumah ini ”, kata Kakek, “sebagian kecil dari sorga (halaman 9). “Katakanlah,Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?” sang bocah yang dikisahkan masih menyulai layang-layang itu pun menjawab, “Tidak ada Kakek! Tidak ada yang lebih dari itu ! (halaman 12)
Dalam kutipan di atas menunjukkan bahwa pilihan kata yang dipakai oleh Kuntowijoyo ialah kata bunga sebagai ketenangan jiwa yang kontras dengan mesin dan bengkel. Kuntowijoyo memaparkan dua filosofi hidup melalui watak Ayah dan Kakek. Dan sang Anak dalam cerpen ini mewakilkan kebingungan dalam menentukan pedoman hidup, walaupun pada akhirnya sang anak lebih memilih kedua orangtuanya.

2.      Bahasa Figuratif
Bahasa figuratif atau bahasa kias digunakan oleh sastrawan untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak langsung untuk mengungkapkan makna (Waluyo dalam Al-Ma’ruf, 2012: 60). Bahasa kias pada dasarnya digunakan oleh sastrawan untuk memperoleh dan menciptakan citraan. Adanya tuturan figuratif menyebabkan karya sastra menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan angan (Pradopo dalam Al-Ma.ruf, 2012: 60).
Dalam cerpennya yang berjudul “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” karya Kuntowijoyo juga menggunakan piranti stilistika seperti personifikasi, hiperbola, dan metafora.
a.       Personifikasi
1)      “Hidup adalah permainan layang-layang”. Kutipan ini menunjukkan adanya majas personifikasi yang mana permainan layang-layang diumpakan sebagai hidup.
2)      “Bunga”, bunga juga merupakan majas personifikasi yang berarti ketenangan jiwa. “Daun bergoyang”, kutipan ini menunjukkan majas personifikasi.

b.      Hiperbola
1)      “Seluruh badan berlumur minyak hitam. Bungkah-bungkah badan menonjol. Terasa rumah jadi bergertar oleh kedatangan Ayah”, kutipan ini menunjukkan majas hiperbola.
2)      “Mataku melayang di sekitar”, kutipan ini menunjukkan adanya majas hiperbola.
c.       Metafora
1)      “Wajah membakar”, kutipan ini menunjukkan adanya majas metafora yang berarti marah.
3.      Citraan
Citraan atau imaji dalam karya sastra berperan penting untuk menimbulkan pembayangan imaginatif, membentuk gambaran mental, dan dapat membangkitkan pengalaman tertentu pada pembaca (Al-Ma’ruf, 2012: 75). Citraan merupakan kumpulan citra (the collection of images), yang digunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indra yang digunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secara harfiah maupun secara kias (Abrams dalam Al-Ma’ruf, 2012: 76).
Berikut akan dipaparkan jenis-jenis citraan yang terdapat di dalam cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” karya Kuntowijoyo.
a.       Citraan Penglihatan
Citraan yang timbul oleh penglihatan, seperti kutipan berikut:
1)      “Ayah tampak lebih segar sekarang”. (halaman 1)
2)      “Rumah itu terletak di samping rumahku. Pagar tembok tinggi menutup rumahnya dari pandangan luar”. (halaman 1)
3)      “Ayam jantan berkeliaran antara bunga-bunga”. (halaman 8)
4)      “Bunga itu mengambang di atas air”. (halaman 13)

b.      Citraan Pendengaran
Citraan yang ditimbulkan oleh pendengaran. Seperti pada kutipan berikut:
1)      “kawan-kawan bersorak dan lari mengejar”. (halaman 4)
2)      “Seperti dalam bengkel, rumahku menjadi gaduh. Kawan-kawan Ayah membantunya, lalu ramailah seluruh rumahku dengan pukulan-pukulan besi. Sekali Ayah membawa dinamo dan dung-dung-dung mesin itu memenuhi udara”. (halaman 18)

c.       Citraan Gerakan
Citraan gerakan melukiskan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak ataupun gambaran gerak pada umumnya. Seperti pada Kutipan berikut:
1)      “Ayah melemparkan bunga itu”. (halaman 5)
2)      “Aku mengangguk’. (halaman 8)
3)      “Aku membungkuk, memungut bunga-bunga”. (halaman 15)
4)      “Ayah menampar kedua pipiku”. (halaman 17)
5)      “Aku mengulurkan tanganku”. (halaman 17)

d.      Citraan Perabaan
Citraan yang ditimbulkan melalui perabaan. Seperti pada kutipan berikut.
1)      “Tiba-tiba pundakku terasa dipegang”. (halaman 4)
2)      “Agak dingin udara di sini, angin sejuk, bunga-bunga merah, kuning, ungu”. (halaman 7-8)
3)      “Sebuah kesejukkan yang menenteramkan lambat-lambat masuk dalam jiwaku”. (halaman 13)

e.       Citraan Penciuman
1)      “Bau anyir minyak memenuhi kamar”. (halaman 17)
2)      “Saputangannya semerbak wangi bunga”. (halaman 16)

E. Simpulan
Stilistika adalah ilmu gaya bahasa yang digunakan untuk mengkaji suatu makna dalam sebuah karya sastra, dengan adanya stilistika kita bisa lebih memahami makna yang sesungguhnya yang terdapat dalam sebuah puisi secara mendetail, mulai dari struktur bahasa, penggunaan kata hingga mengamati antar hubungan pilihan kata.  Adapun ruang lingkup stilistika, yaitu aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam stilistika meliputi gaya bunyi, gaya kata, gaya kalimat, dan citraan.
Cerpen Kuntowijoyo ini termasuk cerpen “filsafat” dengan pola konvensional. Pikiran-pikiran filsafatnya dinyatakan dengan intensif, tetapi tetap terguyur basah oleh emosi cerita karena penempatan kata-katanya yang puitis. Pikiran-pikirannya problematik dan menarik sekali dikaji dan dianalisis, dan merangsang untuk membuka sebuah dimensi tentang arti kehadiran manusia di muka bumi ini, pola hidup, pola pikiran, dan tata tumbuh manusia memang saling berbeda, sesuai dengan latar belakang, persepsi dan visinya dalam memandang dan menerjuni kehidupan ini.

F. Daftar Pustaka

Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2012. Stilistika: Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian Estetika Bahasa. Surakarta: Cakra Books Solo


Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2010. Dimensi Sosial Keagamaan dalam Fiksi Indonesia Modern. Surakarta: SmartMedia.



Aminnuddin. 1997. Stilistika, Pengantar Memahami Karya Sastra. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.


Keraf, Gorys. 2005. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia.


Kuntowijoyo. 1992. Dilarang Mencintai Bunga-Bunga: Kumpulan Cerpen. Jakarta: Pustaka Firdaus.


Nurgiantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Pradopo, Rachmad Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


0 comments:

Post a Comment