Analisis Stilistika DMBB
Posted by
KAJIAN
STILISTIKA CERPEN “DILARANG MENCINTAI BUNGA-BUNGA”
KARYA
KUNTOWIJOYO DAN PEMAKNAANNYA
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Salah satu Tugas Mata Kuliah
Stilistika
Pengampu: Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum
Oleh
Farida Asmarani
A310130194
PENDIDIKAN BAHASA
INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA
2016
A. Pendahuluan
Karya sastra merupakan wujud dari hasil pemikiran manusia. Karya sastra
diciptakan untuk dinikmati dan diapresiasi. Dalam hal ini setiap penulis
memiliki cara dalam mengemukakan gagasan dan gambarannya untuk menghasilkan
efek-efek tertentu bagi pembacanya, Secara manyeluruh kajian stilistika
berperan untuk membantu menganalisis dan memberikan gambaran secara lengkap
bagaimana nilai sebuah karya sastra.
Karya sastra sebagai kajian dari stilistik yang menggunakan gaya bahasa
sastra sebagai media untuk menemukan nilai estetisnya. Aminuddin (1997: 67)
mengemukakan terdapat jenis karya sastra yaitu puisi dan prosa fiksi.
Dalam hal ini perbedaan karakteristik karya sastra mengakibatkan perbedaan
dalam tahapan pemaknaan dan penafsiran ciri dan penggambarannya.
Pada lingkupnya puisi diciptakan oleh seseorang dengan melukiskan dan
mengekspresikan watak-watak yang penting si pengarang, bukan hanya menciptakan
keindahan. Aminuddin (1997: 65) menyatakan dalam puisi misalnya membutuhkan
efek-efek emotif yang mempengaruhi karya sastra. Memperoleh efek-efek tersebut
dapat melalui kebahasaan, paduan bunyi, penggunaan tanda baca, cara penulisan dan
lain sebagainya. Dengan kriteria tersebut membantu dalam menganalisis sebuah cerpen.
Berdasarkan kriteria tersebut dipilih cerpen dengan judul “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” Karya Kuntowijoyo Dan Pemaknaannya untuk dianalisis.
Cerpen
atau cerita pendek sebagai suatu karya seni berfungsi sebagai notulen
kehidupan. Pengarang dengan daya imajinasi yang dimilikinya tidak akan bisa
tertidur dengan nyaman sebelum semua peristiwa itu ditulis, yang akhirnya dapat
dibaca, dipahami, dan direntangkan oleh siapa saja. Dengan demikian apabila
seorang membaca cerpen diharapkan dapat mengetahui seluk beluk peristiwa
kehidupan, tanpa merasa digurui. Kuntowijoyo sebagai pengarang selalu
memanfaatkan diksi (gaya kata) dan citraan dalam
setiap karyanya. Pemanfaatan ini beliau lakukan agar pembaca
lebih tertarik dengan karyanya serta untuk menciptakan efek tertentu sehingga
pembaca seolah-olah merasakan secara langsung peristiwa yang terjadi
di dalam cerpen. Tujuan lainnya ialah pengarang ingin menunjukkan kekhasannya
dalam berkarya lewat penggunaan diksi dan citraan.
B.
Kajian Teoritis
1. Style ‘Gaya Bahasa’
Gaya atau khususnya gaya
bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan
dari kata Latin stylus, yaitu semacam
alat untuk menulis pada lempengan lilin. Gaya bahasa atau style menjadi masalah atau bagian dari diksi atau pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian
kata, frasa, atau klausa tertentu untuk menghadapi situasi tertentu.
Bila kita melihat gaya
secara umum, kita dapat mengatakan bahwa gaya adalah cara mengungkapkan diri
sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya.
Dilihat dari segi bahasa, gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Gaya
bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak, dan kemampuan seseorang
yang mempergunakan bahasa itu. Akhirnya style
atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui
bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai
bahasa) (Keraf, 2005: 113).
2. Stilistika
Secara harfiyah,
stilistika berasal dari bahasa Inggris: stylistics, yang berarti studi
mengenai style 'gaya bahasa' atau 'bahasa bergaya'. Adapun secara
istilah, stilistika (stylistics) adalah ilmu yang meneliti penggunaan
bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra (Abrams, dalam Al Ma’ruf, 2012:8).
Dapat dikatakan bahwa stilistika adalah proses menganalisis karya sastra dengan
mengkaji unsur-unsur bahasa sebagai medium karya sastra yang digunakan sastrawan
sehingga terlihat bagaimana perlakuan sastrawan terhadap bahasa dalam rangka
menuangkan gagasannya (subject matter). Oleh sebab itu, semua proses
yang berhubungan dengan analisis bahasa karya sastra dikerahkan untuk
mengungkapkan aspek kebahasaan dalam karya sastra tersebut, seperti diksi,
kalimat, penggunaan bahasa kias atau bahasa figuratif (figurative language),
bentuk-bentuk wacana, dan sarana retorika yang lain (Cuddon, dalam Al Ma’ruf,
2012:8).
3. Teori Semiotika
Semiotik adalah ilmu atau metode
analisis untuk mengkaji tanda (Hoed dalam Nurgiyantoro, 2013: 67). Tanda adalah
sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain dapat berupa pengalaman, pikiran,
perasaan, gagasan, dan lain-lain. Teori Peirce mengatakan bahwa sesuatu itu
dapat disebut sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain. Sebuah tanda
–yang disebutnya sebagai representamen– haruslah mengacu (atau mewakili)
sesuatu yang disebutnya sebagai objek (acuan, ia juga menyebutnya sebagai
designatum, detotatum, dan dewasa ini orang menyebutnya dengan istilah
referent).
Teori Saussure sebenarnya berkaitan
dengan pengembangan teori linguistik secara umum, maka istilah-istilah yang
dipakai (oleh para penganutnya pun) untuk bidang kajian semiotik meminjam dari
istilah-istilah dan model linguistik. Bahasa sebagai sebuah sistem tanda
menurut Saussure, memiliki dua unsure yang tak terpisahkan: signifier dan
signified, signifiant dan signifie, atau penanda dan petanda.
C. Latar Sosiohistoris Kuntowijoyo dan
Kondisi Sosial Indonesia
1. Latar Sosiohistoris
Kuntowijoyo dilahirkan
di Bantul pada 18 September 1943. Ia merupakan seorang sastrawan sekaligus guru
besar di salah satu Universitas di Yoyakarta. Ia menikah dengan seorang
perempuan yang bernama Susiloningsih dan dikaruniai dua orang anak. Riwayat
pendidikan Kuntowijoyo adalah Sekolah Dasar di Sekolah Rakyat Negeri Klaten dan
lulus tahun 1956. Kemudian beliau menlanjutkan pendidikannya di SMPN Klaten dan
lulus tahun 1959. Kuntowijoyo melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri daerah
Surakarta dan lulus tahun 1962. Lulus dari SMA beliau terdaftar sebagai mahasiswa
di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta dan lulus tahun 1969. Beliau melanjutkan
kuliah S2 di University of Connecticut dan meraih gelar master 1974. Terakhir
ia mendapatkan gelar Ph.D di Universitas Colombia tahun 1990. Kemudian pada
tahun 2005 beliau meninggal akibat virus yang menyerang otaknya.
Kuntowijoyo sebagai
seorang sastrawan tentu sudah banyak melahirkan karya-karya terbaiknya. Adapun
karya-karya beliau, diantaranya Awang-Uwung (1975), novel Khotbah di
Atas Bukit (1976), cerpen Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (Kompas,
Minggu, 24 April 1994), cerpen Lurah (Kompas,
Minggu, 14 Agustus 1994), cerpen Pistol Perdamaian (Kompas, Minggu, 29
Januari 1995), cerpen Sampan Asmara (Kompas, Minggu, 25 Juni 1995),
cerpen Ramon Fernandez (Kompas, Minggu, 29 Oktober 1995), cerpen Anjing-Anjing
yang Menyerbu Kuburan (Kompas, Minggu, 24 Maret 1995), cerpen Rumah
yang Terbakar (Kompas, Minggu, 4 Agustus 1996), cerpen Jangan Dikubur
sebagai Pahlawan (Kompas, Minggu, 10 November 1996), cerpen Perang
Vietnam di Storrs (Kompas, Minggu, 5 Januari 1997), cerpen Gigi (Kompas,
Minggu, 11 Januari 1998), cerpen Abe Smitt (Kompas, Minggu, 22
Maret 1998).Mengusir Matahari (1999).Novel Mantra Penjinak Ular (2000),
cerpen Tawanan (Kompas, Minggu, 8 Juli 2001), cerpen Pelajaran
Pertama bagi Calon Politisi (Kompas, Minggu, 18 Mei 2003), cerpen Rt 03
Rw 22 Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana” (Kompas, Minggu, 4
April 2004).
2. Kondisi Sosial
Dalam kumpulan cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”, Kuntowijoyo
berusaha menunjukkan perhatiaannya terhadap berbagai masalah sosial yang tampak
terlihat sepele. Kondisi pada tahun 1990an inilah yang pada akhirnya menjadikan
Kuntowijoyo menelusuri pikiran dan persaan kecil berbagai jenis manusia yang
sering tampak kebingungan ketika harus menghadapi situasi soaial tertentu.
Pemikiran orang zaman dahulu dengan orang zaman sekarang berbeda, yang dulu
kuno dan orang zaman sekarang memiliki pemikiran yang maju dan modern. Isi dari
cerpen tersebut sebagai bentuk penggambaran Kuntowijoyo tentang dua masyarakat
yang berbeda, yaitu masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan.
D.
Analisis
Stilistika Cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” Karya Kuntowijoyo
Sebagai unsur
karya sastra. Style ‘gaya bahasa’ adalah sarana sastra yang menjadi media bagi
sastrawan untuk mengekspresikan gagasannya. Dalam hal ini style ‘gaya bahasa’
merupakan sistem tanda tingkat pertama dalan konvensi sastra (Al-Ma’ruf, 2012: 181)
Kekhasan
stilistika pada cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” Karya Kuntowijoyo terlihat
pada pemanfaatan tiga bentuk kebahasaam yakni gaya kata (diksi), bahasa
figuratif, dan citraan.
1.
Gaya
Kata (Diksi)
Diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata-kata yang
dilakukan oleh pengarang dalam karyanya guna menciptakan efek makna tertentu
(Al-Ma’ruf, 2012: 49). Kata merupakan unsur bahasa yang paling esensial dalam
karya sastra. Karena itu dalam pemilihannya para sastrawan berusaha agar
kata-kata yang digunakannya mengandung kepadatan dan intensitasnya serta agar
selaras dengan sarana komunikasi puitis
lainnya.
Dalam cerpennya Kuntowijoyo mengkisahkan seorang
anak laki-laki bernama Buyung yang menyukai bunga tetapi ditentang keras oleh
Ayahnya. Ayahnya adalah seorang pekerja bengkel dan tak kenal lelah.
Pendiriannya malas adalah musuh besar laki-laki dan bunga hanya untuk
perempuan.
Di kota, si anak berkenalan dengan sorang kakek.
Mula-mula diselubungi serba rahasia, kalau bukan takhayul, yang memilih bunga
sebagai lambang kehidupan. Dalam perlambangan itu, ia menggunakan kontras untuk
menawarkan makna. Anak itu berada dalam tegangan antara kakek dan ayah, bunga
dan mesin, ketenangan jiwa dan kegemuruhan kerja, surga dan neraka. Di rumah
kakek, si anak belajar mencintai bunga, mencari ketenangan jiwa, dan kehidupan
sempurna. Ayahnya menjadikan rumahnya sebuah bengkel yang bising oleh suara
pukulan palu. Ayah memang berkuasa atas anak, memaksanya melupakan “bunga” dan
melumurinya dengan kerja. Dalam ceritanya, terasa dialog antara Kakek dan sang
anak yang menjadi tidak ringan lagi, bahkan melampaui takaran nalar sang bocah,
misalnya saat mereka berdialog untuk mencari kesempurnaan hidup dalam kutipan
“Rumah ini ”, kata
Kakek, “sebagian kecil dari sorga (halaman 9). “Katakanlah,Cucu. Apakah yang
lebih baik dari ketenangan jiwa?” sang bocah yang dikisahkan masih menyulai
layang-layang itu pun menjawab, “Tidak ada Kakek! Tidak ada yang lebih dari itu
! (halaman 12)
Dalam
kutipan di atas menunjukkan bahwa pilihan kata yang dipakai oleh Kuntowijoyo
ialah kata bunga sebagai ketenangan jiwa yang kontras dengan mesin dan bengkel.
Kuntowijoyo memaparkan dua filosofi hidup melalui watak Ayah dan Kakek. Dan sang
Anak dalam cerpen ini mewakilkan kebingungan dalam menentukan pedoman hidup,
walaupun pada akhirnya sang anak lebih memilih kedua orangtuanya.
2.
Bahasa
Figuratif
Bahasa figuratif atau bahasa kias digunakan oleh
sastrawan untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak langsung untuk
mengungkapkan makna (Waluyo dalam Al-Ma’ruf, 2012: 60). Bahasa kias pada
dasarnya digunakan oleh sastrawan untuk memperoleh dan menciptakan citraan.
Adanya tuturan figuratif menyebabkan karya sastra menarik perhatian, menimbulkan
kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan angan (Pradopo dalam
Al-Ma.ruf, 2012: 60).
Dalam cerpennya yang berjudul “Dilarang Mencintai
Bunga-bunga” karya Kuntowijoyo juga menggunakan piranti stilistika seperti
personifikasi, hiperbola, dan metafora.
a. Personifikasi
1) “Hidup
adalah permainan layang-layang”. Kutipan ini menunjukkan adanya majas
personifikasi yang mana permainan layang-layang diumpakan sebagai hidup.
2) “Bunga”,
bunga juga merupakan majas personifikasi yang berarti ketenangan jiwa. “Daun
bergoyang”, kutipan ini menunjukkan majas personifikasi.
b. Hiperbola
1) “Seluruh
badan berlumur minyak hitam. Bungkah-bungkah badan menonjol. Terasa rumah jadi
bergertar oleh kedatangan Ayah”, kutipan ini menunjukkan majas hiperbola.
2) “Mataku
melayang di sekitar”, kutipan ini menunjukkan adanya majas hiperbola.
c. Metafora
1) “Wajah
membakar”, kutipan ini menunjukkan adanya majas metafora yang berarti marah.
3.
Citraan
Citraan atau imaji dalam karya sastra berperan
penting untuk menimbulkan pembayangan imaginatif, membentuk gambaran mental,
dan dapat membangkitkan pengalaman tertentu pada pembaca (Al-Ma’ruf, 2012: 75).
Citraan merupakan kumpulan citra (the
collection of images), yang digunakan untuk melukiskan objek dan kualitas
tanggapan indra yang digunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secara
harfiah maupun secara kias (Abrams dalam Al-Ma’ruf, 2012: 76).
Berikut akan dipaparkan jenis-jenis citraan yang
terdapat di dalam cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” karya Kuntowijoyo.
a. Citraan
Penglihatan
Citraan yang timbul
oleh penglihatan, seperti kutipan berikut:
1) “Ayah
tampak lebih segar sekarang”. (halaman 1)
2) “Rumah
itu terletak di samping rumahku. Pagar tembok tinggi menutup rumahnya dari
pandangan luar”. (halaman 1)
3) “Ayam
jantan berkeliaran antara bunga-bunga”. (halaman 8)
4) “Bunga
itu mengambang di atas air”. (halaman 13)
b. Citraan
Pendengaran
Citraan yang
ditimbulkan oleh pendengaran. Seperti pada kutipan berikut:
1) “kawan-kawan
bersorak dan lari mengejar”. (halaman 4)
2) “Seperti
dalam bengkel, rumahku menjadi gaduh. Kawan-kawan Ayah membantunya, lalu
ramailah seluruh rumahku dengan pukulan-pukulan besi. Sekali Ayah membawa
dinamo dan dung-dung-dung mesin itu memenuhi udara”. (halaman 18)
c. Citraan
Gerakan
Citraan gerakan
melukiskan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak tetapi dilukiskan sebagai
dapat bergerak ataupun gambaran gerak pada umumnya. Seperti pada Kutipan
berikut:
1) “Ayah
melemparkan bunga itu”. (halaman 5)
2) “Aku
mengangguk’. (halaman 8)
3) “Aku
membungkuk, memungut bunga-bunga”. (halaman 15)
4) “Ayah
menampar kedua pipiku”. (halaman 17)
5) “Aku
mengulurkan tanganku”. (halaman 17)
d. Citraan
Perabaan
Citraan yang ditimbulkan melalui perabaan. Seperti pada kutipan berikut.
1)
“Tiba-tiba
pundakku terasa dipegang”. (halaman 4)
2)
“Agak dingin udara di sini, angin sejuk,
bunga-bunga merah, kuning, ungu”. (halaman 7-8)
3)
“Sebuah kesejukkan yang menenteramkan
lambat-lambat masuk dalam jiwaku”. (halaman 13)
e. Citraan
Penciuman
1) “Bau
anyir minyak memenuhi kamar”. (halaman 17)
2) “Saputangannya
semerbak wangi bunga”. (halaman 16)
E.
Simpulan
Stilistika adalah ilmu
gaya bahasa yang digunakan untuk mengkaji suatu makna dalam sebuah karya
sastra, dengan adanya stilistika kita bisa lebih memahami makna yang
sesungguhnya yang terdapat dalam sebuah puisi secara mendetail, mulai dari
struktur bahasa, penggunaan kata hingga mengamati antar hubungan pilihan
kata. Adapun ruang lingkup stilistika,
yaitu aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam stilistika meliputi gaya bunyi,
gaya kata, gaya kalimat, dan citraan.
Cerpen Kuntowijoyo ini
termasuk cerpen “filsafat” dengan pola konvensional. Pikiran-pikiran
filsafatnya dinyatakan dengan intensif, tetapi tetap terguyur basah oleh emosi
cerita karena penempatan kata-katanya yang puitis. Pikiran-pikirannya
problematik dan menarik sekali dikaji dan dianalisis, dan merangsang untuk
membuka sebuah dimensi tentang arti kehadiran manusia di muka bumi ini, pola
hidup, pola pikiran, dan tata tumbuh manusia memang saling berbeda, sesuai
dengan latar belakang, persepsi dan visinya dalam memandang dan menerjuni
kehidupan ini.
F. Daftar Pustaka
Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2012. Stilistika:
Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian Estetika Bahasa. Surakarta: Cakra
Books Solo
Al-Ma’ruf,
Ali Imron. 2010. Dimensi Sosial Keagamaan
dalam Fiksi Indonesia Modern. Surakarta: SmartMedia.
Aminnuddin. 1997. Stilistika, Pengantar Memahami Karya Sastra.
Semarang: CV. IKIP Semarang Press.
Keraf, Gorys. 2005. Diksi dan Gaya
Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia.
Kuntowijoyo. 1992. Dilarang Mencintai Bunga-Bunga: Kumpulan Cerpen. Jakarta: Pustaka
Firdaus.
Nurgiantoro,
Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmad Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan
Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


0 comments:
Post a Comment